sql

Microsoft SQL Server 2000

Pengantar Administrasi
Microsoft SQL Server 2000
MS SQL Server adalah salah satu produk Relational Database Management System (RDBMS) populer saat
ini. Fungsi utamanya adalah sebagai database server yang mengatur semua proses penyimpanan data dan
transaksi suatu aplikasi. Popularitas SQL Server akhir-akhir ini mulai menanjak dan setara dengan pesaing
terdekatnya yaitu Oracle 9i dan Oracle 10g.
Saat ini versi terbaru adalah SQL Server 2000, sedangkan SQL Server 2005 masih dalam tahap Beta version.
Versi 2000 memiliki feature-feature lengkap untuk membangun aplikasi mulai skala kecil sampai dengan
tingkat enterprise.
SQL Server 2000 memiliki beberapa versi antara lain :
• SQL Server Personal Edition
• SQL Server Developer Edition
• SQL Server Enterprise Edition
• SQL Server Standard Edition
• SQL Server Desktop Engine
• SQL Server for Windows CE Edition

Masing masing versi memiliki perbedaan dalam hal maksimum ukuran database, RAM, jumlah koneksi, serta
berbagai feature lanjutan.
Versi Personal, Developer, dan Desktop dapat diinstall di OS Desktop seperti Windows 2000 Professioanal
dan Xp, sedangkan versi Enterprise dan Standard hanya dapat diinstal di Windows 2000/2003 Server serta NT
Server. Versi Windows CE biasa digunakan untuk PDA dan Pocket PC.
Instalasi
Instalasi SQL Server 2000 sangat mudah. Dalam contoh ini penulis menggunakan versi personal, yang sudah
mencukupi untuk bekerja dan membuat aplikasi. Versi ini 100% kompatibel dengan versi lain yang lebih
tinggi (Standard dan Enterprise). Database dan semua obyeknya dapat direstore ke versi tersebut tanpa ada
masalah.
Pada saat memulai, Anda harus menentukan lokasi instalasi apakah di local computer, atau di komputer lain
dalam jaringan.
Selanjutnya pilih Create New Instance agar SQL Server membuat instalasi baru.

Langkah berikutnya adalah menentukan komponen yang akan diinstal. Pilih server and Client Tools yang
meliputi database engine sebagagai inti SQL Server dan client tools yang berfungsi sebagai interface untuk
mengatur dan setup SQL Server.
Apabila Anda belum memiliki instalasi SQL Server di komputer tersebut, pilih “Default”. Jika sudah ada SQL
Server di komputer, Anda dapat membuat instance baru sehingga terdapat 2 SQL Server di komputer Anda.
Tipe instalasi Typical sudah cukup mewakili untuk berbagai feature yang dibutuhkan dalam membuat aplikasi.
Pada bagian service setting, pilih local system account. Artinya SQL Server menggunakan account system di
OS untuk menjalankan servicenya. Anda dapat juga menggunakan account yang terdapat di domain/ Active
Directory maupun account user tertentu untuk menjalankan service tersebut. Penjelasan lebih detil mengenai
hal ini akan dibahas di tulisan selanjutnya tentang SQL Server Lanjutan.
Kuliah Umum IlmuKomputer.Com
Untuk mode Autentikasi, sebaiknya dipilih Windows Authentication yang lebih menjamin keamanan karena
terintegrasi dengan Windows. Antara mode Windows dan Mixed masing-masing memiliki kelebihan yang
akan dijelaskan pada artikel selanjutnya.
Biasanya SQL Server di internet/Web Hosting menggunakan Mixed Mode, sehingga setiap user/pelanggan
dapat membuat login di SQL Server tanpa harus memiliki login di sistem Windows.
Selanjutnya proses instalasi akan mengcopy file ke komputer. Setelah proses selesai maka Anda sudah siap
bekerja dengan SQL Server.
Interface SQL Server
Ada 3 interface utama saat Anda bekerja dengan SQL Server:
Enterprise Manager
Merupakan interface utama dan paling sering digunakan oleh administrator database. Bagian ini mengandung
sebagaian besar fungsi-fungsi pokok dalam mengatur database.
Di dalam folder database ditampilkan berbagai database yang ada. Database master, model, msdb, dan
tempdb merupakan default system database yang diperlukan agar SQL Server dapat berfungsi baik. Keempat
database ini tidak boleh dihapus ataupun dimodifikasi tanpa pengetahuan yang mencukupi tentang sistem
SQL Server.
Sedangkan NorthWind dan pubs adalah database sampel yang dapat digunakan untuk berlatih perintah SQL
maupun administration job. Dalam tutorial selanjutnya, kita akan banyak menggunakan NorthWind sebagai
kasus. Di dalam folder Security terdapat tool Login yang berisi daftar user di dalam database. Di bagian ini
semua manajemen menyangkut user account dilakukan.
Fungsi-fungsi lain dalam Enterprise Manager akan dibahas pada artikel berikutnya tentang SQL Server
Lanjutan.
Query Analyser
Tool in merupakan interface utama dalam melakukan pemrograman di SQL Server. Bahasa yang digunakan
adalah Transact SQL (T-SQL). Anda dapat membuat perintah untuk mengambil data, sortir, manipulasi data
serta melakukan perhitungan tertentu terhadap sekumpulan data dalam database.
Script yang telah dibuat dapat disimpan sebagai View ataupun Stored Procedure, sesuai dengan kebutuhan
dalam pembuatan aplikasi. Tutorial
Di dalam Query Analyser juga tersedia tool lain, misalnya yang digunakan untuk menganalis performa sebuah
query dan mencari alternatif agar query tersebut dapat lebih dioptimalkan. Apabila toolbar Estimated
Execution Plan diaktifkan maka ditampilkan estimasi waktu dan urutan eksekusi sebuah perintah.
Query Analyser juga dapat digunakan untuk membuat script sebuah database maupun obyek-obyek di
dalamnya. Script ini selanjutnya dapat dijalankan di server lain untuk membuat database yang serupa, atau
digunakan dalam sebuah aplikasi untuk mendukung pemrograman. Caranya adalah menklik kanan sebuah
obyek, dan pilih Script to New Windows. Berikut ini contoh sebuah script untuk membuat tabel Customers di
dalam database NorthWind.
CREATE TABLE [Customers] (
[CustomerID] [nchar] (5) COLLATE Latin1_General_CI_AS NOT NULL ,
[CompanyName] [nvarchar] (40) COLLATE Latin1_General_CI_AS NOT NULL ,
[ContactName] [nvarchar] (30) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL ,
[ContactTitle] [nvarchar] (30) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL ,
[Address] [nvarchar] (60) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL ,
[City] [nvarchar] (15) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL ,
[Region] [nvarchar] (15) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL ,
[PostalCode] [nvarchar] (10) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL ,
[Country] [nvarchar] (15) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL ,
[Phone] [nvarchar] (24) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL ,
[Fax] [nvarchar] (24) COLLATE Latin1_General_CI_AS NULL
) ON [PRIMARY]
GO
Service Manager
Digunakan untuk mengatur service yang ada di SQL Server,apakah akan dijalankan atau dimatikan. Sebuah
service juga dapat disetup agar berjalan otomatis sebagai Windows service, atau dijalankan secara manual.
Ada 3 service standar dalam setiap instalasi default SQL Server:
• Distributed Transaction Coordinator
• SQL Server
• SQL Server Agent
Membuat Database
Kita akan belajar membuat database, tabel, dan mengimport data dari database lain untuk digunakan sebagai
sarana latihan perintah-perintah SQL.
Cara membuat sebuah database:
1. Buka Enterprise Manager lalu expand Microsoft SQL Server > SQL Server Groups
2. Lanjutkan dengan membuka server LOCAL, atau sesuai nama komputer Anda, lalu buka folder
Database. Klik kanan folder tersebut dan pilih New Database.
3. Isikan nama database yang akan dibuat, misalnya: ASPNET.
4. Lanjutkan dengan membuka tab Data Files, di bagian ini terdapat beberapa option yang dapat
dijelaskan sebagai berikut:
• File Name dan Location, untuk memberi nama file dan meletakkan file database tersebut di
suatu lokasi folder yang diinginkan.
• File growth, mengatur penambahan ukuran file database. Dapat ditetapkan dengan
persentase tertentu atau berdasarkan jumlah megabytes tertentu.
• Maximum file size, ukuran file dapat dibatasi pada tingkat tertentu atau unlimited.
5. Pada tab Transaction Log terdapat option yang sama dengan tab Data Files. Apabila membuat
database di SQL Server maka akan terdiri minimum 2 file yaitu:
• Data File, adalah file untuk menyimpan data.
• Transaction Log, adalah file ynag menyimpan histori transaksi dan semua kejadian di
database tersebut.
Pada tutorial ini semua option untuk 2 file tersebut dibiarkan dalam kondisi default.
6. Setelah proses pengisian option selesai, klik OK dan database baru akan terlihat di Enterprise
Manager.
Membuat Tabel
Sebuah database terdiri dari satu atau banyak tabel untuk menyimpan data. Untuk membuat tabel, klik kanan
nama database tersebut lalu pilih New > Table.
Kemudian diisi nama-nama kolom/field untuk tabel tersebut. Berikut contoh pengisian untuk tabel dengan
nama Pelanggan yang berisi 6 field, lengkap dengan tipe datanya masing-masing.
Dapat dilihat bahwa setiap field memiliki tipe data dan ukurannya masing-masing. Penting untuk diperhatikan
bahwa sebuah field harus menggunakan tipe data dan ukuran secara tepat, sesuai dengan kebutuhannya.
Apalagi tipe data dan ukurannya terlalu besar, maka database akan cepat membengkak dan memakan memori
lebih banyak dari yang dibutuhkan.
Selain itu juga perlu ditetapkan field mana yang harus diisi dan mana yang tidak. Pada contoh tersebut field
IDPelanggan, Nama, dan Email harus diisi dengan mengisi setup Allow Null = False. Artinya field tersebut
tidak diperbolehkan kosong.
Primary Key dan Foreign Key
Setiap tabel sebaiknya dilengkapi dengan primary key yang merupakan identitas unik dari setiap baris data.
Dengan demikian apabila dalam suatu tabel terdapat sekian ribu baris data misalnya, maka setiap barisnya
memiliki identitas sendiri berdasarkan primary key nya. Pada contoh diatas yang bertindak sebagai primary
key adalah IDPelanggan, yang berbeda untuk setiap barisnya.
Salah satu teknik sederhana dan efektif adalah menetapkan field autonumber sebagai primary key. Jadi secara
otomatis akan ditetapkan angka berurutan dalam setiap barisnya. Pada tabel tersebut terlihat tipe datanya
adalah smallint dan dibuat autonumber dengan mengisi Identity Seed dan Identity Increment = 1. Identity diisi
Yes, artinya field tersebut akan bernilai berbeda setiap barisnya sehingga dapat berfungsi sebagai primary key.
Anda juga dapat membuat primary key dengan tipe data lain (bukan autonumber) sesuai dengan
kebutuhannya.
Relationship Antar Tabel
Dalam sebuah database terdapat hubungan antar tabel yang menjelaskan keterkaitan satu tabel dengan tabel
lainnya. Relationship ini sangat penting untuk menjaga integritas dan konsistensi data antar tabel. Misalnya
jangan sampai terjadi muncul data tentang pembelian barang di tabel Order, padahal nama pelanggannya
belum dientri di tabel Pelanggan. Selain itu relationship juga mempermudah membaca desain sebuah database
karena terlihat dengan jelas hubungan antar tabelnya.
Misalnya dibuat satu tabel lagi dengan nama Order, yang berisi data-data pesanan barang yang dibeli oleh
setiap pelanggan sebaga berikut:
Kedua tabel tersebut (Pelanggan dan Order) dihubungkan oleh field IDPelanggan, sehingga konsistensi dan
hubungan data kedua tabel dapat dijamin. Perlu diperhatikan bahwa field PelangganID yang terdapat di kedua
tabel tersebut harus memiliki tipe data yang sama.
Untuk membuat relationship antara kedua tabel tersebut, klik kanan ikon Diagrams dan pilih new Diagram
sehingga akan tampil wizard untuk membuat diagram dan relationship.
Pilih 2 tabel Pelanggan dan Order dan klik Add sehingga keduanya menjadi anggota diagram.
Setelah selesai maka terihat kedua tabel tesebut sudah terdapat dalam diagram. Untuk menetapkan
relationship, tinggal mengklik field IDPelanggan di tabel Pelanggan, dan mendragnya ke field IDPelanggan di
tabel Order. Maka muncul dialog properti relationship sebagai berikut:
Pada dialog tersebut terdapat beberapa opton sebagai berikut:
• Check existing data on creation, konsistensi data akan langsung dicek pada saat pembuatan
relationship.
• Enforce relationship on replication, pada saat replikasi antar database maka pengcopyan data
dilakukan dengan mempertimbangkan hubungan antra tabel (tidak dibahas dalam tulisan ini)
• Enforces relationship for INSERTs and UPDATEs, merupakan bagian yang sangat penting dalam
relationship antar tabel. Bagian inimnegecek hubungan tabel setiap terjadi perubahan dan
penambahan data di tabel master.
o Cascade Update Related Fields, setiap ada perubahan di tabel master (Pelanggan) maka
field PelangganID di tabel Order juga ikut berubah.
o Cascade Delete Related Records, apabila data pelanggan di tabel master (Pelanggan)
dihapus, maka semua data yang terkait dengan PelangganID terkait di tabel Order juga
dihapus.
Setelah semua setup selesai, klik OK maka diagram tersebut selesai dibuat. Anda dapat menambah tabel
terkait ke dalam diagram tersebut sesuai dengan kebutuhan. Selain itu juga dapat dibuat beberapa diagram
dalam satu databse untuk mempermudah menganalisis desain database. Hal ini biasanya dilakukan apabila
jumlah tabelnya sudah sangat banyak.
Anda perlu memberikan nama kepada diagram tersebut dan menyimpannya. Klik toolbar Save untuk
menyimpan diagram.
Konfigurasi Login dan Security
Security pada SQL Server merupakan sesuatu yang kompleks dan tidak cukup dibahas tuntas dalam waktu
singkat. Pada tulisan ini hanya dijelaskan dasar-dasar security pada SQL Server.
Terdapat 2 mode security dalam SQL Server, yaitu Windows Mode (Integrated) dan SQL Mode (Standard).
Buka property server Enterprise Manager dan masuk ke tab Security.
Maka terlihat ada 2 mode security sebagai berikut:
• SQL Server and Windows, merupakan seting default saat instalasi. Dengan konfigurasi ini maka
akses koneksi ke SQL server dapat dilakukan menggunakan account Windows atau dengan account
login SQL Server (tidak berhubungan dengan account Windows).
Konfigurasi jenis ini sangat umum digunakan pada database yang diakses secara terbuka oleh umum,
misalnya pada berbagai jasa web hosting di internet. Policy web hosting biasanya tidak mengijinkan
pelanggannya untuk memiliki account Windows sehingga untuk akses ke SQL Server disediakan
SQL Server login yang dibuat di dalam database dan tidak berhubungan dengan account Windows.
• Windows Only, sistem ini lebih aman dibandingkan dengan option pertama. Login untuk akses ke
SQL Server menggunakan account user di Windows. Dengan demikian policy account dapat diatur
sepenuhnya di Windows antara lain menyangkut perubahan password, lockout, dan pembatasan
waktu akses. Apabila databse digunakan di lingkungan intranet atau internal, maka konfigurasi jenis
ini lebih baik digunakan.
Membuat User SQL Server
Untuk membuat account user di SQL Server, buka folder Security dan klik kanan Login lalu pilih New Login.
Pada dialog property pilih SQL Server user, artinya Anda membuat user di SQL Server yang terpisah dari
account Windows. Masukkan nama user misalnya aspnetuser, lalu pilih default database yaitu ASPNET.
Artinya user tersebut diberikan hak akses ke database ASPNET. Selain itu juga dimasukkan password untuk
user tersebut.
Kemudian buka tab Database Access, dan tetapkan aspnetuser sebagai database owner untuk ASPNET.
Karena user ini ditetapkan sebagai owner maka memilki hak penuh untuk merubah, membuat, dan menghapus
obyek di dalam database ASPNET.
Konfigurasi lebih detil tentang security ini akan dibahas pada tulisan selanjutnya.
Setelah pembuatan user selesai maka jika Anda membuka database ASPNET dan masuk ke ikon user akan
terlihat bahwa user aspnetuser tersebut telah menjadi anggota di dalam database ASPNET.
Memasukkan user Windows
Selain membuat user di SQL Server, Anda juga dapat memasukkan user Windows sebagai user di SQL Server.
Dengan demikian password user tersebut juga sama dengan di Windows.
Pada property New Login, pilih Windows Authentication lalu klik tombol yang ada di sebelah kolom Name.
Kemudian pilih nama komputer atau nama domain dimana user yang diinginkan berada. Artinya user tersebut
tidak harus berada dalam 1 server dengan SQL Server. User dapat berasal dari komputer lain, atau dari
Domain Controller dalam jaringan.
Setelah user tersebut di-Add, maka ditetapkan hak aksesnya terhadap database tertentu sebagaimana telah
dilakukan untuk aspnetuser seperti contoh sebelumnya.
Backup dan Restore
Database yang telah dibuat harus dibackup secara teratur dan disimpan di lokasi yang aman. File hasil backup
dapat direstore ke server asal atau ke server lain.
Untuk melakukan backup database, ikuti langkah-langkah berikut:
1. Klik kanan database yang akan dibackup, pilih All Task lalu Backup.
2. Terdapat 4 jenis tipe backup, pilih Database-Complete yang artinya seluruh isi database akan
dibackup. Kemudian klik Add untuk menentukan lokasi backup. Klik tombol di sebelah kolom File
name.
3. Pilih lokasi backup sesuai yang diinginkan dan berikan nama file hasil backup di kotak File name.
4. Klik OK setelah selesai, maka hasil pemilihan lokasi ditampilkan di property backup.
5. Klik OK, dan backup akan dilakukan di lokasi yang telah ditentukan.
Proses restore adalah kebalikan dari backup. Dengan restore maka file hasil backup disimpan kembali ke SQL
Server. Anda harus berhati-hati saat melakukan restore, agar tidak keliru dan menimpa database yang versi
datanya lebih baru. Anda dapat menetapkan apakah suatu restore akan menimpa database lama, atau direstore
sebagai database baru dengan nama berbeda.
Berikut langkah-langkah restore database:
1. Klik kanan folder database lalu pilih Restore. Setelah dialog restore ditampilkan, pada kotak Restore
as database Anda dapat memilih apakah database lama akan ditimpa atau direstore sebagai database
baru. Apabila ingin menimpa database lama pilih nama database dari dropdown yang tersedia.
Apabila ingin merestore sebagai database baru maka isikan nama database pada kolom tersebut.
Pada contoh ini dibuat database baru dengan naama ASPNETBARU.
2. Klik from device untuk menentukan lokasi file backup. Kemudian klik Select Devices, plih Disk dan
klik Add untuk mencari lokasi file.
3. Pilih file hasil backup lalu klik OK sampai kembali ke menu konfigurasi restore.
4. Setelah kembali ke menu restore database, klik option untuk menentukan nama dan lokasi file
database yang akan dibuat dari hasil restore. Secara default nama dan lokasi filenya sama dengan
database ASPNET karena backupnya dibuat dari database ini. Karena akan dibuat restore ke
database baru maka harus ditetapkan nama file database yang berbeda. Lokasi file boleh saja tetap
sama dengan database ASPNET.
5. Ganti nama file database dan log menjadi ASPNETBARU seperti berikut:
6. Klik OK, maka restore dilakukan dan terbuat database baru bernama ASPNETBARU.
Note: Apabila Anda ingin menimpa database lama dengan file backup maka pada dialog Options harus
dilipih: Force restore over existing database.

Perintah Transact SQL
Anda telah mempelajari dasar-dasar administrasi database SQL Server pada tutorial ini. Untuk mengakses
data dari database digunakan perintah-perintah Transact SQL. Dengan bahasa ini data di dapat ditambah,
dihapus, update, sortir, filter serta melakukan berbagai perhitungan manipulasi data.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang dasar-dasar Transact SQL silakan membaca tutorial di:
http://ilmukomputer.com/umum/choirul-sql.php
———————0000000——————–
*Untuk diskusi lebih jauh tentang SQL Server, silakan bergabung dengan milis
sqlserver-indo@yahoogroups.com.
Kirim email kosong ke sqlserver-indo-subscribe@yahoogroups.com.
Atau daftar melalui web di: http://groups.yahoo.com/group/sqlserver-indo.

Iklan
Telah Terbit on Mei 5, 2009 at 9:43 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://ibehbandito.wordpress.com/sql/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: